|
Diberdayakan oleh Blogger.
PengikutMengenai SayaLencana FacebookArsip Blogdewa blogLencana Facebook
Read more: http://epg-studio.blogspot.com/2012/04/pasang-aneka-kursor-pada-blog.html#ixzz2EFfRthDv
|
|
SENDAL JEPIT
blog ini dibuat berdasarkan keisengan semata tanpa rekayasa apapun
| Menjemput Kereta Kencana | 16.50 |
|
komentar (0)
Filed under:
|
|
Aku siap pulang. Seharusnya aku sadar siapa aku. aku tak
lebih dari beban hidup bagi mereka. Beban kedua orang tua ku, beban keluarga,
bahkan pacarku juga. Kalian tahu rasanya jadi aku? Sepi. Dari kecil aku
dibesarkan dalam ketakutan. Rasanya apa yang menjadi pilihanku, hidupku, juga
serba salah. Serba memberatkan. Terimakasih mama, ajik, kakak selama hampir 23
tahun ini kalian bersabar selalu aku bebani. Dan aku belum mampu membalas
apa-apa bahkan semakin membebani. Terimakasih yang tu, ajiman sudah mau menampung
keponakan kurang ajar sepertiku. Dan buat kamu juga wi. Sayang ku aja bukan
modal yang kuat untuk kita bersama, bahkan aku ikut membebani wi. Aku gak
nyerah buat hidup kok. Cuman aku gak pengen jadi beban buat kalian.
Aku gak menemukan jalan lain selain meninggalkan kalian.
Seengaknya menurutku dengan seperti ini aku mengurangi beban kalian. Saat ini
aku sedang dalam kesadaran penuh. Masih hafal huruf di keyboard, masih ingat
jelas kalian, ingat jelas juga perjuangan kalian. Jika nanti aku pergi terlalu
jauh ketika menenangkan diri, ikhlaskan. Setidaknya dengan begitu dosa ku akan
berkurang. Jika nanti aku meraung meminta tolong atas kebodohanku, abaikan.
Anggap kalian tak pernah mengenalku. Tuhan terlalu baik, memberikan duri
seperti ku untuk malaikat-malaikat mulia seperti kalian.
Nanti, jangan memilih orang sepertiku lagi untuk menemani
hidup kalian. Oh satu lagi, jangan mengirim da untukku, aku terlalu membebani
kalian.
Salam
Si
pembeban dan pembuat onar
| Seediq Bale "The Warriors Of The Rainbow" | 16.48 |
|
Filed under:
|
|
Nah, libur akan segera tiba.... KKN juga akan segera tiba horee...horeee hooreee......
apa persiapanmu?? Nah, kalau saya persiapannya banyak copy film, yaaah, biar gaaak mati gaya. Niiih, saya kasi bocoran deh, film yang wajib ditonton judul filmnya "The Warriors Of The Rainbow", film ini ber-gendre action.
Ceritanya kurang lebih seperti ini:
![]() |
| Foto dari Mbah GOOGLE yaaah |
Singkat cerita, pada suatu ketika bangsa Jepang datang ke Taiwan dan memburu semua suku yang ada di hutan ini. Suku Seediq menjadi buruh kasar di tanah sendiri, diperlakukan semena-mena (Pokoknya yang jarang mewek nonton film ini, bakalan nagis darah deeh....).
langsung saja ke ending cerita yaaa... Suku Seediq berontak, menyerang penjajah Jepang. Awalnya mereka kalah, tapi karena kemajuan teknologi persenjataan Jepang akhirnya suku Seediq dan suku lainnya kalah. Semua suku di bunuh, tetapi saktinya si Mouna ini tidak ditemukan, bahkan mayatnya pun tiada berkabar. hingga beberapa puluh tahun kemudia mayatnya ditemukan di sebuah gua dan diperkiraan meninggal karena umur tua, walau sudah meninggal kesaktian si Mouna tetap ada, mayatnya itu lo ngilang begitu aja, ini disajikan di akhir cerita.
usut punya usut, suku Seediq ini masih ada hubungan darah sama suku dayak Indonesia. Waah,......
| ANALISIS ASPEK MORAL NOVEL INCEST KARYA I WAYAN ARTIKA | 16.27 |
|
Filed under:
|
|
Agan dan aganwati yang sedang sibuk mencari tugas kuliah, ini saya bagi sedikit (hemaaatttttt) ilmu yang saya dapatkan selama menempuh pendidikan. semoga bisa dijadikan refrensi atau bahan pengembangan....cekidoootttt
ANALISIS ASPEK MORAL NOVEL INCEST
KARYA I WAYAN ARTIKA
Dewa Ayu Sri Puspayanti
Universitas
Pendidikan Ganesha
Abstrak
Karya
sastra merupakan wadah untuk menyampaikan ide, pandangan penulis terhadap
sesuatu. Melalui karya sastra penulis bebas untuk mengekspresikan dirinya.
Salah satu bentuk karya sastra adalah novel. Novel tidak lepas dari adanya
unsur intrinsic dan ekstrinsik. Dengan adanya melalui unsur ini, penulis
menuangkan nilai-nilai kehidupan di dalamnya. Salah satunya nilai moral. Salah
satu novel yang mengandung nilai moral adalah novel Inces karya I Wayan Artika.
Dalam novel ini menceritakan nilai moral dalam bentuk tingkahh laku, sikap
hidup manusia yaitu ketegaran, kepedulian, ketabahan serta keiklasan.
Disampaikan pula mengenai kodrat masyarakat ang harus tunduk terhadap adat.
Kata Kunci: karya sastra, novel,
nilai moral, Incest
Abstract
Literary work is a means to convey the idea, the
author's view on things. Through
literary writers are
free to express themselves. One
form is a literary novel. The novel is not
separated from the intrinsic and extrinsic elements.
Given this element
through, the author pours the values of life in it. One of these moral
values. One of the novel is the moral
values that contain novel inces work
I Wayan the Arctic. In this novel tells the moral values
in the form tingkahh behavior, attitudes of
human life, namely kink, caring,
perseverance and sincerity.
He also about the nature of society that
should be subject to the customs.
Keywords:
Literary,novel, moral values, incest
Pendahuluan
Karya
sastra merupakan sebuah wadah untuk menyampaikan ide atau gagasan seorang
penulis. Upaya menuangkan ide atau gagasan melalui karya sastra dapat dikatakan
sebagai usaha kreatif seorang penulis untuk mengajak masyarakat pembaca
mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi dalam kehidupan
(Yasa,2012:3). Sumardjo (1979:12) menyatakan bahwa “sastra adalah produk
masyarakat berdasarkan desakan-desakan emosional atau rasional dari masyarakat”.
Salah
satu bentuk karya sastra adalah novel. Novel merupakan karya sastra yang tidak
terlepas dari adanya unsur intrinsik dan ekstrinsik dan melibatkan unsur
imajinasi dalam pembuatannya. Novel merupakan prosa fiksi sejenis roman, yaitu
karangan yang menceritakan suatu kehidupan yang cukup kompleks (Sutresna, 2006:
32).
Novel
sebagai karya sastra tentu mengandung nilai-nilai tertentu atau pesan tertentu
yang ingin disampaikan oleh penulis. Nilai-nilai ini disampaikan penulis penyampaiannya
bisa secara implisit maupun eksplisit. Salah satu nilai-nilai kehidupan yang
dimaksud adalah nilai moral. Nilai moral
dalam karya sastra mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan,
pandangan lain tentang nilai-nilai kebenaran dan dalam hal itu yang ingin
disampaikan kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2009:321). Semi (1984:49) menyatakan “karya
sastra dianggap sebagai medium yang paling efektif membina moral dan
kepribadian dalam suatu kelompok masyarakat.” Dalam novel atau karya sastra
nilai moral dapat dinyatakan secara eksplisit, dapat pula dinyatakan secara
implisit. Pernyataan eksplisit tentang nilai moral dapat dilakukan dengan
panarasian, dapat pula dilakukan melalui tuturan-tuturan para tokoh dalam novel.
Salah satu novel yang mengandung nilai moral
adalah novel Incest karya I Wayan Artika. Digunakannya novel Incest karena
novel ini penulis anggap mengandung banyak nilai moral. Seperti masih kentalnya
nilai adat-adat istiadat dalam novel Incest serta memuat masalah sosial yang
ada dalam kehidupan masyarakat.
Novel
Incest menceritakan tentang fenomena kembar buncing dalam ranah adat disebuah
desa di Bali. Kembar buncing yang lahir pada saat itu harus menerima sangsi
adat yang ada. Selain itu, dalam novel ini, pengarang menggambarkan secara
jelas bagaimana konflik yang terjadi, percintaan, serta kesabaran seseorang
yang harus dipersalahkan atas kelahiran bayi buncingnya. Dalam novel ini,
mengutamakan tingkah laku, sikap dan peran manusia sebagai anggota masyarakat
yang diikat oleh aturan adat. Maka, dari itu penulis melakukan pengkajian
terhadap aspek moral pada novel ini.
Pembahasan
1.
Nilai
Moral dalam Karya Sastra
Kata
moral berasal dari bahasa Latin yaitu kata mores
yang berarti tatacara dalam kehidupan, atau adat istiadat. Dewey (dalam Indarsih,
2014:24) menyatakan bahwa “moral berhubungan dengan nilai-nilai susila”. Baron
(dalam Indarsih, 2014:24) mengatakan moral “adalah hal-hal yang berhubungan
dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah, atau benar”. Dapat
disimpulkan bahwa secara umum moral merupakan perbuatan, sikap, kewajiban yang
sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan diukur dengan baik buruk. Seseorang
dikatakan bermoral apabila mereka dapat membedakan hal yang baik dan buruk sesuai
dengan kaidah atau aturan yang telah disepakati.
Moral
dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang mengenai
nilai-nilai kebenaran. Dalam karya sastra moral kedudukannya disamakan dengan
tema yaitu merupakan bagian dari segi isi karya sastra. Nilai moral merupakan
pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam berbagai cara penyampaiannya.
Tema sering disamakan dengan moral. Namun keduanya berbeda. Nurgiyantoro (2009:320)
mengatakan “moral dalam karya sastra mencerminkan pandangan hidup pengarang
yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran”.
Unsur
moral dalam karya sastra diungkapkan pengarang melalui tokoh, nilai kebenaran,
baik-buruk, etika, sopan-santun, watak, karakter, termasuk budi pekerti
disampaikan menyatu dengan alur cerita. Karya sastra dapat berperan menjadi
pembimbing manusia dalam memahami berbagai persoalan hidup, sikap, karakter,
atau moral positif (Djojosuroto, 2006:22).
Dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud nilai moral dalam karya sastra adalah
nilai-nilai kebaikan yang dilukiskan melalui cerita atau penokohan, serta menekankan
pada kodrat manusia secara hakiki.
2.
Sinopsis
Novel Incest
Dalam
makalah ini digunakan novel Incest sebagai medianya. Novel ini dipiliih karena
sarat akan nilai moral. Novel Incest adalah novel fenomenal karya I Wayan
Artika. Beliau adalah seorang sastrawan sekaligus pengajar di Universitas
Pendidikan Ganesha. Novel ini awalnya dimuat pada harian Bali-Post. Namun
pemuatannya harus dihentikan lantaran menuai protes dari masyarakat di desa
asal sang pengarang, lantaran menggunakan seting dari desa tersebut. Hingga
akhirnya pengarang harus menerima sangsi adat, berupa “diasingkannya” pengarang
ke luar desa selama lima tahun.
Novel
Incest mengisahkan tentang kelahiran kembar buncing di Jelungkap dari pasangan
I Noman Sika dan Ni Ketut Artini. Kelahiran kembar buncing ini ternyata berarti
aib bagi adat Jelungkap, sesuai adat Jelungkap Nyoman Sika dan Ni Ketut Artini
beserta kedua anaknya Geo dan Bulan harus diasingkan selama empat puluh dua
hari di Langking Langkau. Tidak cukup dengan sangsi pembuangan saja, keluarga I
Nyoman Sika juga harus melakukan upacara malik sumpah. Selain itu, keluarga
Nyoman Sika juga harus menghadapi dua fase kehidupan yang sangat menyakitkan,
kedua anaknya harus dibesarkan secara terpisah serta tidak diperkenankan untuk
memberitahukan jati diri kedua bayi tersebut, hingga akhirnya saat dewasa nanti
mereka harus dinikahkan atas nama adat. Prosesi
ini mereka yakini sebagai sebuah keharusan dan merupakan aturan turun temurun
dari lelhuru mereka.
Saat
kedua buncing ini kembali ke Jelungkap serta mulai mengenal satu sama lain,
hingga akhirnya mereka menjalin hubungan kasih, adat Jelungap yang pernah
membelenggu mereka harus membayar segala kesakita keluarga Wayan Sika. Adat
yang dulu mereka berlakukan malah menjadi boomerang bagi warga Jelungkap,
mereka tiddak bisa membiarkan perkawinan sedarah yang pada masa lalu diharuskan
untuk dilakukan.
3.
Analisis
Nilai Moral Novel Incest
Pada
Novel ini, penulis dapat menemukan beberapa aspek moral yang terkandung dalam
novel, hal ini dapat dilihat dari penggalan berikut,
“Ada sejumlah kerja
kecil yang kini dilakoni Putu Geo bersama anak-anak desa yang sedang tumbuh.
Rumahnya dijadikan tempat berkumpul dan belajar. Meski Geo bukan guru, tapi
persoalan-persoalan diperbincangkan dan dianalisis”
Artika (2008:35).
Dari
penggalan di atas menunjukan sikap positif, yaitu kepedulian Geo terhadap
pendidikan anak-anak Jelungkap. Ia merelakan tempat tinggalnya dijadikan tempat
berkumpul tanpa diberikan imbalan. Walaupun Geo bukan seorang guru, itu tidak
menjadi hal yang mampu menghalangi kemauannya untuk turut memajukan pendidikan
di Jelungkap melalui anak-anak Jelungkap.
Selain
itu dalam novel ini disampaikan pula keteguhan hati dan komitmen dari
masyarakat desa di luar Jelungkap yang dapat dilihat dari penggalan berikut,
“Untuk
itu, desa-desa di Kecamatan Junggang dinilai terlalu sempit. Lagi pula tanah di
desa-desa selain Jelungkap telah disepakati tidak akan dijual untuk orang lain
yang tidak jelas asalnya” (Artika, 2008:36).
Dalam
penggalan di atas disampaikan keteguhan hati masyarakat desa selain desa
Jelungkap dalam mempertahankan tanah leluhurnya dengan tidak menjualnya kepada
orang lain yang tidak jelas identitasnya, terlebih lagi untuk orang-orang yang
tidak berasal dari desanya. Bahkan mereka berani menolak bayaran tinggi yang
siap ditawarkan oleh investor kapan saja. Nilai moral lain dapat pula dilihat
dari penggalan berikut,
Artika
(2008:47)
“Tidak mudah menentukan
siapakah yang salah dalam keadaan seperti ini. Kita hanya diharuskan menerima.
Itu saja. Tabah, dan ini juga sangat penting bagi kita. Hidup kita ini harus
dijalani. Jangan bebani pikiran kita dengan hal-hal yang tidak jelas. Adat
adalah adat. Kita hidup di Jelungkap dan kita memang harus tunduk terhadap adat
yang harus disepakati. Hanya ini! Sementara itu, kita harus mengerti bahwa
kelahiran bayi kita adalah berkah. Kita harus sambut sepasang bayi kita dengan
senyuman dan senandung atau siualan”.
Dari
penggalan novel tersebut mengisahkan ketabahan Nyoman Sika terhadap apa yang
sedang ia hadapi. Nyoman Sika dengan lapang dada mencoba menerima hukuman adat
yang diberikan kepadanya. Bahkan nyoman Sika sanggup untuk menguatkan istrinya
di tengah masalah berat yang sedang mereka hadapi. Bahkan saatorang-orang
Jelungkap mengadili mereka dan mengangap kelahiran bayi buncingnya sebagai aib,
Nyoman Sika tidak menyesali hal tersebut. Bahkan ia berkeyainan bahwa kelahiran
kedua bayinya bukanlah aib melainkan anugrah yang tiada tara yang patut mereka
sambut dengan suka cita. Nilai ini tergolong nilai moral yang patut ditiru. Aspek
moral lain dalam novel ini terlihat dari penggalan berikut,
Artika
(2008: 146-147)
Ia
mendapat input dari seorang pemuda yang gagal ke universitas, Komang Wiarsa
namanya, yang kini mengembangkan pertanian organik di tanah milik orang tuanya.
“Ke depan, saya mencoba membangun dan mengembangkan pertanian organik, yang
tidak terbatas pada menghasilkan bahan baku, tetapi jika mungkin, memproduksi
produk yang siap konsumsi,” tutur Komang Wiarsa dengan penuh keyakinan kepada
Gek Bulan Armani.
“Mengatasi rasa malu memang perlu perjuangan
tersendiri. Bahkan, orang tua saya awalnya benci dengan apa yang saya kerjakan.
Ya, setelah beberapa tahun jalan, dengan bantuan orang tua, saya bisa memiliki
satu buah mobil box dan setiap minggu saya nyetir sendiri ke Denpasar untuk
memasarkan sayur-mayur organik saya.”
Gek
Bulan Armani tersenyum, kagum dengan usaha yang dirintis oleh Komang Wiarsa.
Pada
penggalan cerita di atas, penulis menggambarkan sisi lain dari pemuda Jelungkap
yaitu I Komang Wiarsa. Komang Wiarsa merupakan sosok pemuda yang memiliki citra
yang baik. Di tengah persaingan pemuda Jelungkap untuk berebut menjadi buruh
kasar di pabrik agropolitan, Wiarsa memilih untuk menjadi petani sayur organik.
Di tengah pemikiran pemuda Jelungkap yang menganggap pekerjaan menjadi petani
adalah hina, Wiarsa tetap yakin dan menekuni usahanya. Bahkan orang tuanya pun
sempat tidak mendukung apa ang dilakukan oleh anaknya. Dengan semangat yang
tinggi, ketekunan serta keuletan, Wiarsa mampu membuktikan bahwa citra petani
tidaklah seburuk apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Dengan menjadi
petani Komang Wiarsa mampu membeli satu buah mobil box. Jika dibandingkan
dengan pemuda yang bekerja pada tempat pariwisata dan buruh di pabri
agropolitan tidak akan sebanding dengan apa yang dilakukan oleh Komang Wiarsa.
Komang Wiarsa mampu menciptakan lapangan kerja sendiri ditengah cemooh dan
pandangan negatif masyarakat. Bahkan sikap teguh Wiastra mampu menggugah Bulan.
Bulan memiliki latar belakang pendidikan hingga sarjana belum mampu berbuat
seperti yang dilakukan oleh Komang Wiastra.
(Artika,
2008: 151)
Betapa
terharunya Gek Bulan Armani. Di sebuah desa yang tampaknya sangat terbelakang,
ditemukan anak yang tidak pernah menikmati tradisi akademik dan tradisi
berpikir kritis mandiri, berbicara dengan jujur dan jelas sekali titik
berdirinya. Melihat usaha yang ditekuni oleh I Komang Wiarsa, Gek Bulan tidak
hanya bangga tetapi juga sekaligus merasa malu dan berkecil hati. Selama ini,
Gek Bulan hanya ngomong, melihat, berseminar, memotret, diskusi tidak kenal
lelah, menulis laporan, dan lain-lain, tanpa aksi-aksi nyata.(hal 151)
Pada
penggalan cerita tersebut, kembali diceritakan bagaimana kekaguman Bulan
terhadap kemampuan positif Wiarsa. Dia tidak berpendidikan tinggi seperti Gek Bulan,
tetapi ia mampu memperaktekkan ilmu sederhana yang ia miliki hingga akhirnya
ilmu sederhananya menghasilkan buah yang manis. Dari cerita ini dapat pula
disimpulkan, bahwa belajar atau mendapatkan ilmu tidak selalu melalui lembaga
formal, namun bisa dimana saja. Buktinya Wiarsa mendapat ilmu dari Geo dan ia
coba kembangkan dengan modal ketekunan, kesabaran serta ketelatenan hingga
akhirnya ia mampu meraih kesuksesan.
Artika
(2008: 151-152)
“Sudah
hampir lima tahun tinggal di sini. Orang tuanya tinggal di Denpasar. Secara
tepat saya tidak tahu. Orangnya baik sekali.”
“Dia
mengerjakan pertanian organik?”
“Tidak,
membantu membangun perpustakaan sekolah dan sering saya lihat banyak temannya yang
datang. Macam-macam pekerjaanya. Mungkin dia banyak dibantu oleh teman-temannya
itu. Sebulan lalu, ia mendatangkan guru menggambar dan selama satu minggu
anak-anak belajar menggambar. Hasilnya lalu dipamerkan di Bale Banjar. Wah,
jadi meriah sekali, Mbok. Kegiatann-kegiatannya tidak mahal. Saya bangga karena
setiap tamunya datang, selalu dia pesan sayur ke sini. Saya selalu
mengantarkannya. Biasanya tamu-tamu Bli Geo
pasti diajak ke Perkebunan ini.”
“Siapa sih dia? Pernah
kuliah di Yogyakarta?” pikir Gek Bulan Armani penasaran.
“Mbok, rumah Bli Geo
sangat unik, penuh buku dan dari sana ternyata saya bisa belajar banyak. Tapi
tak semua pemuda mau membaca. Dulu saya juga demikian. Mbok Gek bulan, kapan
balik ke Jakarta?”
Pada
penggalan cerita di atas menceritakan tentang hal-hal positif yang dikerjakan
oleh Geo selama berada di Jelungkap. Geo sangat peduli dengan kehidupan pemuda
Jelungkap, serta anak-anak Jelungkap. Geo membuat perpustakaan di rumahnya guna
memfasilitasi pemuda agar gemar membaca, walau pun kenyataannya tidak semua
pemuda Jelungkap memiliki keinginan membaca. Tetapi itulah salah satu jalan
yang dirintis Geo untuk memajukan pengetahuan pemuda Jelungkap. Selain
membangun perpustakaan, Geo juga membantu anak-anak Jelungkap dengan
mendatangkan guru menggambar. Bahkan hasil lukisan anak-anak ia buatkan sebuah
pameran. Sungguh usaha yang mulia. Tidak banyak pemuda modern seperti Geo yang
bisa melakukan hal demikian, apalagi harus menetap di desa yang masi
terbelakang seperti Jelungkap. Kebanyak pemuda seperti Geo ingin bekerja di perusahaan
besar, memiliki jabatan tinggi, membeli segala kemewahan. Namun sosok berbeda
digambaran oleh tokoh Geo, tokoh yang sangat peduli dengan pendidikan di desanya.
Penutup
1.
Simpulan
Karya
sastra merupakan wadah penulis untuk menyampaikan pandangan, atau ide yang
dimilikinya. Salah satu bentuk karya sastra adalah novel. Dalam novel penulis
menertakan berbagai nilai kehidupan yang ingin disampaikan. Salah satunya
adalah nilai moral.
Dalam
Novel Incest karya I Wayan Artika ditemukan beberapa contoh nilai moral. Nilai
moral dalam novel ini menekankan pada tingkah laku, sikap hidup masyarakat.
Adapun nilai moralnya meliputi kepedulian Geo terhadap pendidikan di Jelungkap,
kepatuhan masyarakat Junggang terhadap janji yang mereka buat dan sepakati,
keteguhan serta kesabaran I Nyoman Sika beserta istri dalam menghadapi sansi
adat atas kelahiiran anaknya yang dianggap sebagai aib, keuletan I Komang
Wiarsa untuk membuktikan bahwa petani juga bisa sukses. Nilai moral yang
terdapat dalam novel ini tentu patut untuk ditiru dalam kehidupan nyata.
2.
Saran
Dalam
makalah ini peneliti mengkhususkan pembahasan pada nilai moral saja. Perlu
dilakukan lagi penelitian pada nilai-nilai lain karya sastra yang sama guna
memperkaya apresiasi karya sastra. Dengan pembahasan ini, diharapkan pembaca
mampu meningkatkan nilai-nilai moral dalam kehidupan nyata.
Daftar Pustaka
Artika, I Wayan. 2008. Incest. Yogyakarta: Interpre Book.
Nurgiantoro,
Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Semi, Atar.1984. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.
Sumardjo,
Jacob. 1979. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogya: CV. Nur Cahaya.
Sutresna,
Ida Bagus. 2006. Modul Prosa Fiksi. Singaraja:
(Tidak diterbitkan).
Yasa, I Nyoman. 2012. Teori Sastra dan Penerapannya. Bandung:
Karya Putra Darwanti.
| Untuk Mimpi Sang Kodok | 14.01 |
|
Filed under:
|
|
Impossible
I remember years ago
Someone told me I should take
Caution when it comes to love
I did, I did
Someone told me I should take
Caution when it comes to love
I did, I did
And you were strong and I was not
My illusion, my mistake
I was careless, I forgot
I did
My illusion, my mistake
I was careless, I forgot
I did
And now when all is done
There is nothing to say
You have gone and so effortlessly
You have won
You can go ahead tell them
There is nothing to say
You have gone and so effortlessly
You have won
You can go ahead tell them
Tell them all I know now
Shout it from the roof tops
Write it on the sky line
All we had is gone now
Shout it from the roof tops
Write it on the sky line
All we had is gone now
Tell them I was happy
And my heart is broken
All my scars are open
Tell them what I hoped would be
Impossible, impossible
Impossible, impossible
And my heart is broken
All my scars are open
Tell them what I hoped would be
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Falling out of love is hard
Falling for betrayal is worst
Broken trust and broken hearts
I know, I know
Falling for betrayal is worst
Broken trust and broken hearts
I know, I know
Thinking all you need is there
Building faith on love and words
Empty promises will wear
I know, I know
Building faith on love and words
Empty promises will wear
I know, I know
And now when all is gone
There is nothing to say
And if you’re done with embarrassing me
On your own you can go ahead tell them
There is nothing to say
And if you’re done with embarrassing me
On your own you can go ahead tell them
Tell them all I know now
Shout it from the roof tops
Write it on the sky line
All we had is gone now
Shout it from the roof tops
Write it on the sky line
All we had is gone now
Tell them I was happy
And my heart is broken
All my scars are open
Tell them what I hoped would be
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Impossible, impossible!
Ooh impossible (yeah yeah)
And my heart is broken
All my scars are open
Tell them what I hoped would be
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Impossible, impossible!
Ooh impossible (yeah yeah)
I remember years ago
Someone told me I should take
Caution when it comes to love
I did
Someone told me I should take
Caution when it comes to love
I did
Tell them all I know now
Shout it from the roof tops
Write it on the sky line
All we had is gone now
Shout it from the roof tops
Write it on the sky line
All we had is gone now
Tell them I was happy
And my heart is broken
All my scars are open
Tell them what I hoped would be
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Impossible, impossible
And my heart is broken
All my scars are open
Tell them what I hoped would be
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Impossible, impossible
Impossible, impossible
I remember years ago
Someone told me I should take
Caution when it comes to love
I did..
Someone told me I should take
Caution when it comes to love
I did..
Langganan:
Komentar (Atom)
