|
Diberdayakan oleh Blogger.
PengikutMengenai SayaLencana FacebookArsip Blogdewa blogLencana Facebook
Read more: http://epg-studio.blogspot.com/2012/04/pasang-aneka-kursor-pada-blog.html#ixzz2EFfRthDv
|
|
SENDAL JEPIT
blog ini dibuat berdasarkan keisengan semata tanpa rekayasa apapun
| konversi | 20.14 |
|
komentar (0)
Filed under:
|
|
KONVERSI, AKROMINISASI DAN PENYERAPAN
Selain proses afiksasi, reduplikasi dan komposisi, masih ada proses lain dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Proses lain itu adalah konfersi, akronimisasi dan penyerapan. Namun, kalau ketiga proses yang lama betul-betul merupakan mekanisme gramatikal, sedangkan ketigayang terakhir tidak seluruhnya merupakan masalah gramatikal, karena prosesnya tidak mudah di kaidahkan dan juga produktifitasnya sangat rendah.
1. Proses Konversi
Konversi lazim juga disebut derivasi zero, transmutasi, atau transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah dasar berkategori tertentu menjadi kata berkategori lain, tanpa mengubah bentuk fisik dari dasar itu. Misalnya, kata cangkul dalam kalimat(1) adalah berkategori nomina, tetapi pada kalimat(2) adalah berkategori verba.
(1) Petani membawa cangkul ke sawah.
(2) Cangkul dulu tanah itu, baru ditanami.
Jadi dalam kalimat (1) yang bermodus deklaratif kata cangkul berkategori nimina; sedangkan pada kalimat (2) yang bermodus imperative kata cangkul berkategori ferba. Penyebab sebuah nimina tanpa perubahan fisik menjadi sebuah verba, walaupun dalam modus kalimat yang berbeda adalah kata cangkul, dan sejumlah kata lainnya disamping memiliki komponrn makna (+ bendaan) juga memiliki komponen makna (+ alat) dan(+tindakan). Komponen makna (+tindakan) inilah yang menyebabkan kata cangkul itu adalam kalimat interatif menjadi berkategori verbal. Hal ini berbeda dengan kata pisau yang memiliki komponen makna(+bendaan), (+alat) dan(- tindakan). Ketiadaan komponen makna (+tindakan) pada kata pisau iru tidak bisa digunakan sebagai verba dalam kalimat imperative.
Jumlah kosakata nomina yang memiliki komponen makna (+tindakan) sangat terbatas. Diantaranya;
Kunci amplas
Kikir sikat
Gergaji pacul
Rantai kupas
Tutup ketam
Kail kapak
Pancing serut
Silet borgol
Ada satu permasalahan lagi didalam berbagai buku pelajaran dan buku tata bahasa kata-kata nama warna seperti merah,hijau dan kuning.digolongkan berkategori ajektifa. Didalam kamus besar. Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata-kata seperti merah, hijau dan kuning disebut mempunyai dua kategori yaitu ajektifa dan nomina karena secara empiris warna-warna itu dapat “diamati”. Hal ini menjadi indikator bahwa nama-nama warna itu berkate gori nomina.
2. Akronimisasi
Akronimisasi adalah proses pembentukan sebuah kata dengan cara menyingkat sebuah konsep yang di realisasikan dalam sebuah konstruksi lebih dari sebuah kata. Proses ini menghasilkan sebuah kata yang disebut akronim. Akronim adalah juga sebuah singkatan, namun yang”diperlakukan” sebagai sebuah kata atau sebuah butir leksikal. Misal’ya kata pilkada yang berasal dari pemilihan kepala daerah, kata jabotabek yang berasal dari Jakarta bogor, Tanggerang dan Bekasi dan kata Balita yang berasal dari bawah lima tahun.
Aturan atau kaidah pembentukan akronim “belum” ada aturan tertentu yang digunakan . namun, dari data yang terkumpul yampak ada cara-cara sebagai berikut;
Pertama, mengambil huruf-huruf (fonem-fonem) pertama dari kata-kata yang membentuk konsep itu
· IKIP : institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
· IDI : Ikatan Dokter Indonesia
· ABRI :Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
· AMPI :Angkatan Muda Pembangunan Indonesia
· ASRI :Akademi Seni Rupa Indonesia
· KUHSAP :Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
· IPSI : Ikatan Pencak Silat Indonesia.
Kata-kata seperti IKIP, IDI, ABRI, dan AMPI lazin diucapkan dan dituliskan sebagai sebuah kata berbeda dengan SMA (sekolah menengah atas) dan DPR (Dewan perwakilan rakyat), yang masih tetap dilafalkan dan dituliskan sebagai singkatan.
Kedua, pengambilan suku kata pertama dari semua kata yang membentuk konsep itu. Misalnya :
ü Rukan : rumah kantor
ü Balita : bawah lima tahun
ü Orpol : organisasi politik
ü Moge : motor gede
ü Pujasera : pusat jajanan serba ada
ü Nalo : nasional lotere
ü Puskesmas : pusat kesehatan masyarakat
Ketiga, pengambilan suku kata pertama ditambah dengan huruf pertama dari suku kata kedua dari setiap kata yang membentuk konsep itu. Misalnya :
· Warteg : warung tegal
· Depkes : departemen kesehatan
· Kalbar : Kalimantan Barat
· Puspen : pusat penerangan
· Sulsel : Sulawesi Selatan
· Sumbagsel : Sumatera bagian selatan
Keempat, pengambilan suku kata yang dominain dari setiap kata yang mewadahi konsep itu. Misalnya:
Kelima, pengambilan suku kata tertentu disertai dengan modifikasi yang tampaknya tidak beraturan, namun masih dengan memperhatikan ”keindahan” bunyi. Misalnya :
Ø Pilkada : pemilihan kepala daerah
Ø Organda : organisasi angkutan darat
Ø Kloter : kelompok terbang
Ø Bulog : badan urusan logistic
Ø Purek : pembantu rector
Ø Unila : Universitas Negeri Lampung
Keenam, pengambilan unsur – unsur kata yang mewadahi konsep itu, tetapi sukar disebutkan keteraturannya termasuk di seni. Misalnya:
Kata – kata yang dibentuk sebagai hasil proses akronimisasi ini terdapat dalam semua bidang kegiatan dan keilmuan, seperti kepolosian, kemiliteran, pendidikan, olahraga, ekonomo, kesenian, dan sebagainya. Biasanya akronim itu hanya dipahami oleh mereka yang berkecimpung dalam bidang kegiatan tertentu itu. Misalnya, dalam salah satu instansi depdiknas ada akronim dupak (daftar usulan perhitungan angka kredit), yang hanya dipahami oleh orang – orang instansi tersebut.
Namun, tidak sedikit akronim bahasa Indonesia yang telah menjadi kosakata umum, seperti muntaber, wagub. Pemda, lemhanas, hansip, dirjen, dan sebagainya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993) akronim yang telah menjadi kosakata umum ini didaftarkan sebagai singkatan.
3. Penyerapan
Penyerapan adalah proses pengambilan kosakata dari bahasa asing, baik bahasa Eropa (Belanda, Inggris, Arab,Portugis, dan sebagainya), maupun bahasa asing Asia (seperti bahasa Arab, bahasa Parsi, bahasa Sansekerta, bahasa Cina, dan lain sebagainya). Termasuk dari bahasa – bahasa Nusantara ( seperti bahasa Jawa, Sunda, Minang, Bali, dan sebagainya).
Didalam sejarahnya penyerapan kosakata asing berlangsung secara audial, artinya melalui pendengaran. Contohnya seperti orang asing mengucapkan kosakata asing, lalu orang Indonesia menirukan nya sesui dengan apa yang didengarnya. Karena system Fonologi bahasa asing itu berbeda dengan system Fonologi bahasa yang dimiliki orang Indonesia, maka bunyi uajaran bahasa asing ditiru menurut kemampuan lidah melafalkannya. Begitulah kata bahasa Belanda dome krack dilafalkan menjandi dongkrak, kata bahasa Sansekerta uttpatti dilafalkan menjadi upeti, kata bahasa Arab mudharat dilafalkan menjadi melarat, dan kata bahasa Portugis almari dilafalkan menjadi lemari.
Penyerapan kata – kata asing secara audial ini berlangsung lama, dan telah menghasilkan kata –kata yang banyak jumlahnya, yang kadang – kadang sudah tidak diketahui lagi dari mana asalnya. Kita misalnya, tidak tau lagi dari mana asalnya kata – kata berikut: surge, neraka, kuman, kertas, waktu, pahala, bandit, jendela, dan sebagainya.
Sejak terbit buku Pedoman Pembentukan Istilah dan buku Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, penyerapan kata – kata asing harus dilakuakan secara visual. Artinya berdasarkan apa yangdilihat didalam tulisan. Intinya dari pedoman pembentukan istilah itu adalah:
Pertama, kata – kata yang sudah diserap dan lazim digunakan sebelum buku pedoman ini terbit, tidak perlu diubah ejaanya. Misalnya kata – kata kabar, sirsak, telepon, iklan, perlu, bengkel, hadir, dan badan.
Kedua, penyerapan dilakukan secara utuh. Misalnya kata standarisasi, efektifitas, objektifitas, dan implementasi diserap secara utuh disamping kata standar, efektif, objektif, dan implement.
Ketiga, huruf –huruf asing pada awal harus disesuaikan sebagai berikut:
au tetap au
audiogram audiogram
autotroph autotrof
hydraulic hidraulik
caustic kaustik
e dimuka a, u, o dan konsonan menjadi k
calomel kalomel
construction konstuksi
cubik kubik
classification klasifikasi
crystal Kristal
c dimuka e, l, dan y menjadi s
central sentral
circulation sirkulasi
ceelom selom
cylinder silinder
cc dimuka o,u dan konsonan menjadi k
accommodation akomodasi
acculturation alkulturasi
acclamation aklamasi
cc dimuka e da I menjadi ks
saccharin sakarin
charisma karisma
cholera kolera
technique teknik
ch yang lafalnya s atau sy menjadi s
echelon eselon
machine mesin
ch yang lafalnya c menjadi c
check cek
china cina
e tetap e
effect efek
description deskripsi
synthesis sintesis
ea tetap ea
idealist idealis
habeas habeas
eo tetap eo
stereo stereo
geometry geometri
zeolite zeolit
f tetap f
fanatic fanatik
factor faktor
fossil fosil
i pada awal suku kata di muka vocal tetap i
ion ion
iota iota
iambus iambus
ie (Belanda) jika dilafalkan i menjadi i
politiek politik
riem riem
ie jika lafalnya i tetap ie
variety varietas
patient pasien
efficient efesien
ng tetap ng
contingent kontingen
congres kongres
linguistics linguistic
oo menjadi u
cartoon kartun
proof pruf
pool pul
ou jika dilafalnya u menjadi u
coupon kupon
contour kontur
governur gubernur
ph menjadi f
phase fase
physiology fisiologi
allomorph alomorf
q menjadi k
aquarium akuarium
frequency frekuensi
equador ekuador
rh menjadi r
rhetoric retorika
rhythm ritme
rhapsody repsodi
sc dimuka a, o,u dan konsonan menjadi sk
scandium skandium
scriptie skripsi
scotopia skotopia
sc dimuka e, i, dan y menjadi s
scnography senografi
scintillation sentilasi
scyphistoma sifistoma
sch dimuka vocal menjadi sk
schema skema
schizophrenia skizofrenia
scholasticisme skolatisisme
t dimuka i menjadi s jika dilafalnya s
ratio rasio
action aksi
patient pasien
th menjadi t
theocracy teokrasi
method metode
orthography ortografi
uu menjadi u
vacuum vakum
prematuur premature
v tetap v
vitamin vitamin
television televise
cavalry kavalery
x pada awal kata tetap x
xenon xenon
xylophone xilofon
x pada posisi lain menjadi ks
taxsi taksi
latex lateks
executive eksekutif
xc di muka e dan I menjadi ks
exception eksepsi
excess ekses
excitatin eksitasi
xc dimuka a, o, u, dan konsonan menjadi ksk
excavation ekskavasi
exclusive eksklusif
excursive ekskursif
y menjadi y jika lafalnya y
yen yen
yuan yuan
yangonin yangonin
y menjadi i jika lafalnya i
dynamo dynamo
propyl propel
psychology psikologi
z menjadi z
zenith zenith
zodiac zodiak
zygote zigot
keempat, huruf pada akhir kata harus disesuaikan sebagai berikut:
-age menjadi –ase
Percentage persentase
Etalage etalase
-aal, -eel menjadi –al
Structural, structureel struktural
Formal, formeel formal
Normal normal
-ant menjadi –an
Accountant akuntan
Informant informan
-archy, -archie, menjadi – arki
Anarchy, anarchie anarki
Aligarchy, aligarchie aligarki
-ary, -air, menjadi –er
Secondary, secundair sekunder
Primary, primair primer
Complementary, complementair komplementer
-(a)tion,-(a)tie menjasi –asi, -si
Action, actie aksi
Publication, publicate publikasi
-ic,-ics, -que-, -que, -iek, -ica, menjadi –ik, -ika
Logic, logica logika
Phonetics, phonetiek fonetik
Physics, physica fisika
Technique teknik
-ic,-isch menjadi – ik
Electronic, elektronisch elektronik
Mechanic, mechanisch mekanik
Ballistic, ballistisch balistik
-ical, -isch menjadi –is
Economical, economishch ekonomis
Practical, practisch praktis
Logical, logisch logis
-ism, -isme, menjadi –isme
Modernism, modernism modernism
Communism, communism komunisme
-ist menjadi –is
Egoist egoist
Publicist publisis
-ive,-ief menjadi –if
Descriptive, descriptiief deskriptif
Demonstrative, demonstratief demonstratife
-logue menjadi –log
Catalogue catalog
Dialogue dialog
-logy, -logic menjadi –logi
Technology, technologie teknologi
Physiology, physiologie fisiologi
Analogy, analogie analogi
-oir(e) menjadi –oar
Trottoir trotoar
Repertoire repertoar
-or, -eur, menjadi –ur
Director, directeur direktur
Inspector, inspecteur inspektur
Formateur formatur
-or tetap –or
Dictator diktator
Corrector korektor
-ure, -uur menjadi –ur
Structure, struktuur struktur
Premature,prematuur prematur
Penyerapan dari bahasa asing yang tidak menggunakan aksara Latin, seperti bahasa Arab, Rusia, dan Cina tentu harus ditransliterasi atau ditranskripsi dulu kedalam huruf Latin. Penyerapan dari bahasa – bahasa Nusantara haru disesuaikan dengan ejaan dan lafal bahasa Indonesia.
Langganan:
Komentar (Atom)