SENDAL JEPIT

blog ini dibuat berdasarkan keisengan semata tanpa rekayasa apapun

Seediq Bale "The Warriors Of The Rainbow" 16.48

Nah, libur akan segera tiba.... KKN juga akan segera tiba horee...horeee hooreee......
apa persiapanmu?? Nah, kalau saya persiapannya banyak copy film, yaaah, biar gaaak mati gaya. Niiih, saya kasi bocoran deh, film yang wajib ditonton judul filmnya "The Warriors Of The Rainbow", film ini ber-gendre action.
Ceritanya kurang lebih seperti ini:

Foto dari Mbah GOOGLE yaaah
Nah, film ini mengisahkan suatu suku di hutan Taiwan namanya suku Seediq Bale. Di huta Taiwan ini banyak ada sukunya lo,,, mereka ini punya wilayah kekuasaan gitu. Suku yang paling kuat saat itu ya suku Seediq Bale ini. Suku-suku yang ada di hutan ini saling memburu kepala pimpinan suku lo, aagar diakui sebagai suku terkuat. Nah, di suku Seediq Bale, ada ni, abg yang digadang-gadang sebagai pemimpin suku selanjutnya namanya Mouna Rudou. Ya, benar saja si Mouna ini memburu kepala ketua suku klan lain. Wah, saat adegang ini kalian-kalian pasti bakalan ngerii, soalnya gambar yang disajikan sangat..sangat apik, seperti pembunuhan itu terjadi di dunia nyata... (hihihihihihih)
Singkat cerita, pada suatu ketika bangsa Jepang datang ke Taiwan dan memburu semua suku yang ada di hutan ini. Suku Seediq menjadi buruh kasar di tanah sendiri, diperlakukan semena-mena (Pokoknya yang jarang mewek nonton film ini, bakalan nagis darah deeh....).
langsung saja ke ending cerita yaaa... Suku Seediq berontak, menyerang penjajah Jepang. Awalnya mereka kalah, tapi karena kemajuan teknologi persenjataan Jepang akhirnya suku Seediq dan suku lainnya kalah. Semua suku di bunuh, tetapi saktinya si Mouna ini tidak ditemukan, bahkan mayatnya pun tiada berkabar. hingga beberapa puluh tahun kemudia mayatnya ditemukan di sebuah gua dan diperkiraan meninggal karena umur tua, walau sudah meninggal kesaktian si Mouna tetap ada, mayatnya itu lo ngilang begitu aja, ini disajikan di akhir cerita.
usut punya usut, suku Seediq ini masih ada hubungan darah sama suku dayak Indonesia. Waah,......

ANALISIS ASPEK MORAL NOVEL INCEST KARYA I WAYAN ARTIKA 16.27



Agan dan aganwati yang sedang sibuk mencari tugas kuliah, ini saya bagi sedikit (hemaaatttttt) ilmu yang saya dapatkan selama menempuh pendidikan. semoga bisa dijadikan refrensi atau bahan pengembangan....cekidoootttt


 
ANALISIS ASPEK MORAL NOVEL INCEST KARYA I WAYAN ARTIKA
Dewa Ayu Sri Puspayanti
Universitas Pendidikan Ganesha

Abstrak
Karya sastra merupakan wadah untuk menyampaikan ide, pandangan penulis terhadap sesuatu. Melalui karya sastra penulis bebas untuk mengekspresikan dirinya. Salah satu bentuk karya sastra adalah novel. Novel tidak lepas dari adanya unsur intrinsic dan ekstrinsik. Dengan adanya melalui unsur ini, penulis menuangkan nilai-nilai kehidupan di dalamnya. Salah satunya nilai moral. Salah satu novel yang mengandung nilai moral adalah novel Inces karya I Wayan Artika. Dalam novel ini menceritakan nilai moral dalam bentuk tingkahh laku, sikap hidup manusia yaitu ketegaran, kepedulian, ketabahan serta keiklasan. Disampaikan pula mengenai kodrat masyarakat ang harus tunduk terhadap adat.
Kata Kunci: karya sastra, novel, nilai moral, Incest
Abstract
Literary work is a means to convey the idea, the author's view on things. Through literary writers are free to express themselves. One form is a literary novel. The novel is not separated from the intrinsic and extrinsic elements. Given this element through, the author pours the values ​​of life in it. One of these moral values​​. One of the novel is the moral values ​​that contain novel inces work I Wayan the Arctic. In this novel tells the moral values ​​in the form tingkahh behavior, attitudes of human life, namely kink, caring, perseverance and sincerity. He also about the nature of society that should be subject to the customs.
Keywords: Literary,novel, moral values, incest



Pendahuluan
Karya sastra merupakan sebuah wadah untuk menyampaikan ide atau gagasan seorang penulis. Upaya menuangkan ide atau gagasan melalui karya sastra dapat dikatakan sebagai usaha kreatif seorang penulis untuk mengajak masyarakat pembaca mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi dalam kehidupan (Yasa,2012:3). Sumardjo (1979:12) menyatakan bahwa “sastra adalah produk masyarakat berdasarkan desakan-desakan emosional atau rasional dari masyarakat”.
Salah satu bentuk karya sastra adalah novel. Novel merupakan karya sastra yang tidak terlepas dari adanya unsur intrinsik dan ekstrinsik dan melibatkan unsur imajinasi dalam pembuatannya. Novel merupakan prosa fiksi sejenis roman, yaitu karangan yang menceritakan suatu kehidupan yang cukup kompleks (Sutresna, 2006: 32).
Novel sebagai karya sastra tentu mengandung nilai-nilai tertentu atau pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh penulis. Nilai-nilai ini disampaikan penulis penyampaiannya bisa secara implisit maupun eksplisit. Salah satu nilai-nilai kehidupan yang dimaksud adalah nilai moral.  Nilai moral dalam karya sastra mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangan lain tentang nilai-nilai kebenaran dan dalam hal itu yang ingin disampaikan kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2009:321). Semi (1984:49) menyatakan “karya sastra dianggap sebagai medium yang paling efektif membina moral dan kepribadian dalam suatu kelompok masyarakat.” Dalam novel atau karya sastra nilai moral dapat dinyatakan secara eksplisit, dapat pula dinyatakan secara implisit. Pernyataan eksplisit tentang nilai moral dapat dilakukan dengan panarasian, dapat pula dilakukan melalui tuturan-tuturan para tokoh dalam novel.
 Salah satu novel yang mengandung nilai moral adalah novel Incest karya I Wayan Artika. Digunakannya novel Incest karena novel ini penulis anggap mengandung banyak nilai moral. Seperti masih kentalnya nilai adat-adat istiadat dalam novel Incest serta memuat masalah sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat.
Novel Incest menceritakan tentang fenomena kembar buncing dalam ranah adat disebuah desa di Bali. Kembar buncing yang lahir pada saat itu harus menerima sangsi adat yang ada. Selain itu, dalam novel ini, pengarang menggambarkan secara jelas bagaimana konflik yang terjadi, percintaan, serta kesabaran seseorang yang harus dipersalahkan atas kelahiran bayi buncingnya. Dalam novel ini, mengutamakan tingkah laku, sikap dan peran manusia sebagai anggota masyarakat yang diikat oleh aturan adat. Maka, dari itu penulis melakukan pengkajian terhadap aspek moral pada novel ini.

Pembahasan
1.     Nilai Moral dalam Karya Sastra
Kata moral berasal dari bahasa Latin yaitu kata mores yang berarti tatacara dalam kehidupan, atau adat istiadat. Dewey (dalam Indarsih, 2014:24) menyatakan bahwa “moral berhubungan dengan nilai-nilai susila”. Baron (dalam Indarsih, 2014:24) mengatakan moral “adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah, atau benar”. Dapat disimpulkan bahwa secara umum moral merupakan perbuatan, sikap, kewajiban yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan diukur dengan baik buruk. Seseorang dikatakan bermoral apabila mereka dapat membedakan hal yang baik dan buruk sesuai dengan kaidah atau aturan yang telah disepakati.
Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang mengenai nilai-nilai kebenaran. Dalam karya sastra moral kedudukannya disamakan dengan tema yaitu merupakan bagian dari segi isi karya sastra. Nilai moral merupakan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam berbagai cara penyampaiannya. Tema sering disamakan dengan moral. Namun keduanya berbeda. Nurgiyantoro (2009:320) mengatakan “moral dalam karya sastra mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran”.
Unsur moral dalam karya sastra diungkapkan pengarang melalui tokoh, nilai kebenaran, baik-buruk, etika, sopan-santun, watak, karakter, termasuk budi pekerti disampaikan menyatu dengan alur cerita. Karya sastra dapat berperan menjadi pembimbing manusia dalam memahami berbagai persoalan hidup, sikap, karakter, atau moral positif (Djojosuroto, 2006:22).
Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud nilai moral dalam karya sastra adalah nilai-nilai kebaikan yang dilukiskan melalui cerita atau penokohan, serta menekankan pada kodrat manusia secara hakiki.  
2.     Sinopsis Novel Incest
Dalam makalah ini digunakan novel Incest sebagai medianya. Novel ini dipiliih karena sarat akan nilai moral. Novel Incest adalah novel fenomenal karya I Wayan Artika. Beliau adalah seorang sastrawan sekaligus pengajar di Universitas Pendidikan Ganesha. Novel ini awalnya dimuat pada harian Bali-Post. Namun pemuatannya harus dihentikan lantaran menuai protes dari masyarakat di desa asal sang pengarang, lantaran menggunakan seting dari desa tersebut. Hingga akhirnya pengarang harus menerima sangsi adat, berupa “diasingkannya” pengarang ke luar desa selama lima tahun.
Novel Incest mengisahkan tentang kelahiran kembar buncing di Jelungkap dari pasangan I Noman Sika dan Ni Ketut Artini. Kelahiran kembar buncing ini ternyata berarti aib bagi adat Jelungkap, sesuai adat Jelungkap Nyoman Sika dan Ni Ketut Artini beserta kedua anaknya Geo dan Bulan harus diasingkan selama empat puluh dua hari di Langking Langkau. Tidak cukup dengan sangsi pembuangan saja, keluarga I Nyoman Sika juga harus melakukan upacara malik sumpah. Selain itu, keluarga Nyoman Sika juga harus menghadapi dua fase kehidupan yang sangat menyakitkan, kedua anaknya harus dibesarkan secara terpisah serta tidak diperkenankan untuk memberitahukan jati diri kedua bayi tersebut, hingga akhirnya saat dewasa nanti mereka harus dinikahkan atas nama adat.  Prosesi ini mereka yakini sebagai sebuah keharusan dan merupakan aturan turun temurun dari lelhuru mereka.
Saat kedua buncing ini kembali ke Jelungkap serta mulai mengenal satu sama lain, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan kasih, adat Jelungap yang pernah membelenggu mereka harus membayar segala kesakita keluarga Wayan Sika. Adat yang dulu mereka berlakukan malah menjadi boomerang bagi warga Jelungkap, mereka tiddak bisa membiarkan perkawinan sedarah yang pada masa lalu diharuskan untuk dilakukan.
3.     Analisis Nilai Moral Novel Incest
Pada Novel ini, penulis dapat menemukan beberapa aspek moral yang terkandung dalam novel, hal ini dapat dilihat dari penggalan berikut,
“Ada sejumlah kerja kecil yang kini dilakoni Putu Geo bersama anak-anak desa yang sedang tumbuh. Rumahnya dijadikan tempat berkumpul dan belajar. Meski Geo bukan guru, tapi persoalan-persoalan diperbincangkan dan dianalisis” Artika (2008:35).
Dari penggalan di atas menunjukan sikap positif, yaitu kepedulian Geo terhadap pendidikan anak-anak Jelungkap. Ia merelakan tempat tinggalnya dijadikan tempat berkumpul tanpa diberikan imbalan. Walaupun Geo bukan seorang guru, itu tidak menjadi hal yang mampu menghalangi kemauannya untuk turut memajukan pendidikan di Jelungkap melalui anak-anak Jelungkap.
Selain itu dalam novel ini disampaikan pula keteguhan hati dan komitmen dari masyarakat desa di luar Jelungkap yang dapat dilihat dari penggalan berikut,
“Untuk itu, desa-desa di Kecamatan Junggang dinilai terlalu sempit. Lagi pula tanah di desa-desa selain Jelungkap telah disepakati tidak akan dijual untuk orang lain yang tidak jelas asalnya” (Artika, 2008:36).
Dalam penggalan di atas disampaikan keteguhan hati masyarakat desa selain desa Jelungkap dalam mempertahankan tanah leluhurnya dengan tidak menjualnya kepada orang lain yang tidak jelas identitasnya, terlebih lagi untuk orang-orang yang tidak berasal dari desanya. Bahkan mereka berani menolak bayaran tinggi yang siap ditawarkan oleh investor kapan saja. Nilai moral lain dapat pula dilihat dari penggalan berikut,
Artika (2008:47)
“Tidak mudah menentukan siapakah yang salah dalam keadaan seperti ini. Kita hanya diharuskan menerima. Itu saja. Tabah, dan ini juga sangat penting bagi kita. Hidup kita ini harus dijalani. Jangan bebani pikiran kita dengan hal-hal yang tidak jelas. Adat adalah adat. Kita hidup di Jelungkap dan kita memang harus tunduk terhadap adat yang harus disepakati. Hanya ini! Sementara itu, kita harus mengerti bahwa kelahiran bayi kita adalah berkah. Kita harus sambut sepasang bayi kita dengan senyuman dan senandung atau siualan”.
Dari penggalan novel tersebut mengisahkan ketabahan Nyoman Sika terhadap apa yang sedang ia hadapi. Nyoman Sika dengan lapang dada mencoba menerima hukuman adat yang diberikan kepadanya. Bahkan nyoman Sika sanggup untuk menguatkan istrinya di tengah masalah berat yang sedang mereka hadapi. Bahkan saatorang-orang Jelungkap mengadili mereka dan mengangap kelahiran bayi buncingnya sebagai aib, Nyoman Sika tidak menyesali hal tersebut. Bahkan ia berkeyainan bahwa kelahiran kedua bayinya bukanlah aib melainkan anugrah yang tiada tara yang patut mereka sambut dengan suka cita. Nilai ini tergolong nilai moral yang patut ditiru. Aspek moral lain dalam novel ini terlihat dari penggalan berikut,
Artika (2008: 146-147)
Ia mendapat input dari seorang pemuda yang gagal ke universitas, Komang Wiarsa namanya, yang kini mengembangkan pertanian organik di tanah milik orang tuanya. “Ke depan, saya mencoba membangun dan mengembangkan pertanian organik, yang tidak terbatas pada menghasilkan bahan baku, tetapi jika mungkin, memproduksi produk yang siap konsumsi,” tutur Komang Wiarsa dengan penuh keyakinan kepada Gek Bulan Armani.
 “Mengatasi rasa malu memang perlu perjuangan tersendiri. Bahkan, orang tua saya awalnya benci dengan apa yang saya kerjakan. Ya, setelah beberapa tahun jalan, dengan bantuan orang tua, saya bisa memiliki satu buah mobil box dan setiap minggu saya nyetir sendiri ke Denpasar untuk memasarkan sayur-mayur organik saya.”
Gek Bulan Armani tersenyum, kagum dengan usaha yang dirintis oleh Komang Wiarsa.
Pada penggalan cerita di atas, penulis menggambarkan sisi lain dari pemuda Jelungkap yaitu I Komang Wiarsa. Komang Wiarsa merupakan sosok pemuda yang memiliki citra yang baik. Di tengah persaingan pemuda Jelungkap untuk berebut menjadi buruh kasar di pabrik agropolitan, Wiarsa memilih untuk menjadi petani sayur organik. Di tengah pemikiran pemuda Jelungkap yang menganggap pekerjaan menjadi petani adalah hina, Wiarsa tetap yakin dan menekuni usahanya. Bahkan orang tuanya pun sempat tidak mendukung apa ang dilakukan oleh anaknya. Dengan semangat yang tinggi, ketekunan serta keuletan, Wiarsa mampu membuktikan bahwa citra petani tidaklah seburuk apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Dengan menjadi petani Komang Wiarsa mampu membeli satu buah mobil box. Jika dibandingkan dengan pemuda yang bekerja pada tempat pariwisata dan buruh di pabri agropolitan tidak akan sebanding dengan apa yang dilakukan oleh Komang Wiarsa. Komang Wiarsa mampu menciptakan lapangan kerja sendiri ditengah cemooh dan pandangan negatif masyarakat. Bahkan sikap teguh Wiastra mampu menggugah Bulan. Bulan memiliki latar belakang pendidikan hingga sarjana belum mampu berbuat seperti yang dilakukan oleh Komang Wiastra.



(Artika, 2008: 151)
Betapa terharunya Gek Bulan Armani. Di sebuah desa yang tampaknya sangat terbelakang, ditemukan anak yang tidak pernah menikmati tradisi akademik dan tradisi berpikir kritis mandiri, berbicara dengan jujur dan jelas sekali titik berdirinya. Melihat usaha yang ditekuni oleh I Komang Wiarsa, Gek Bulan tidak hanya bangga tetapi juga sekaligus merasa malu dan berkecil hati. Selama ini, Gek Bulan hanya ngomong, melihat, berseminar, memotret, diskusi tidak kenal lelah, menulis laporan, dan lain-lain, tanpa aksi-aksi nyata.(hal 151)
Pada penggalan cerita tersebut, kembali diceritakan bagaimana kekaguman Bulan terhadap kemampuan positif Wiarsa. Dia tidak berpendidikan tinggi seperti Gek Bulan, tetapi ia mampu memperaktekkan ilmu sederhana yang ia miliki hingga akhirnya ilmu sederhananya menghasilkan buah yang manis. Dari cerita ini dapat pula disimpulkan, bahwa belajar atau mendapatkan ilmu tidak selalu melalui lembaga formal, namun bisa dimana saja. Buktinya Wiarsa mendapat ilmu dari Geo dan ia coba kembangkan dengan modal ketekunan, kesabaran serta ketelatenan hingga akhirnya ia mampu meraih kesuksesan.
Artika (2008: 151-152)
“Sudah hampir lima tahun tinggal di sini. Orang tuanya tinggal di Denpasar. Secara tepat saya tidak tahu. Orangnya baik sekali.”
“Dia mengerjakan pertanian organik?”
“Tidak, membantu membangun perpustakaan sekolah dan sering saya lihat banyak temannya yang datang. Macam-macam pekerjaanya. Mungkin dia banyak dibantu oleh teman-temannya itu. Sebulan lalu, ia mendatangkan guru menggambar dan selama satu minggu anak-anak belajar menggambar. Hasilnya lalu dipamerkan di Bale Banjar. Wah, jadi meriah sekali, Mbok. Kegiatann-kegiatannya tidak mahal. Saya bangga karena setiap tamunya datang, selalu dia pesan sayur ke sini. Saya selalu mengantarkannya. Biasanya tamu-tamu Bli Geo  pasti diajak ke Perkebunan ini.”
“Siapa sih dia? Pernah kuliah di Yogyakarta?” pikir Gek Bulan Armani penasaran.
“Mbok, rumah Bli Geo sangat unik, penuh buku dan dari sana ternyata saya bisa belajar banyak. Tapi tak semua pemuda mau membaca. Dulu saya juga demikian. Mbok Gek bulan, kapan balik ke Jakarta?”
Pada penggalan cerita di atas menceritakan tentang hal-hal positif yang dikerjakan oleh Geo selama berada di Jelungkap. Geo sangat peduli dengan kehidupan pemuda Jelungkap, serta anak-anak Jelungkap. Geo membuat perpustakaan di rumahnya guna memfasilitasi pemuda agar gemar membaca, walau pun kenyataannya tidak semua pemuda Jelungkap memiliki keinginan membaca. Tetapi itulah salah satu jalan yang dirintis Geo untuk memajukan pengetahuan pemuda Jelungkap. Selain membangun perpustakaan, Geo juga membantu anak-anak Jelungkap dengan mendatangkan guru menggambar. Bahkan hasil lukisan anak-anak ia buatkan sebuah pameran. Sungguh usaha yang mulia. Tidak banyak pemuda modern seperti Geo yang bisa melakukan hal demikian, apalagi harus menetap di desa yang masi terbelakang seperti Jelungkap. Kebanyak pemuda seperti Geo ingin bekerja di perusahaan besar, memiliki jabatan tinggi, membeli segala kemewahan. Namun sosok berbeda digambaran oleh tokoh Geo, tokoh yang sangat peduli dengan pendidikan di desanya.

Penutup
1.      Simpulan
Karya sastra merupakan wadah penulis untuk menyampaikan pandangan, atau ide yang dimilikinya. Salah satu bentuk karya sastra adalah novel. Dalam novel penulis menertakan berbagai nilai kehidupan yang ingin disampaikan. Salah satunya adalah nilai moral.
Dalam Novel Incest karya I Wayan Artika ditemukan beberapa contoh nilai moral. Nilai moral dalam novel ini menekankan pada tingkah laku, sikap hidup masyarakat. Adapun nilai moralnya meliputi kepedulian Geo terhadap pendidikan di Jelungkap, kepatuhan masyarakat Junggang terhadap janji yang mereka buat dan sepakati, keteguhan serta kesabaran I Nyoman Sika beserta istri dalam menghadapi sansi adat atas kelahiiran anaknya yang dianggap sebagai aib, keuletan I Komang Wiarsa untuk membuktikan bahwa petani juga bisa sukses. Nilai moral yang terdapat dalam novel ini tentu patut untuk ditiru dalam kehidupan nyata.
2.      Saran
Dalam makalah ini peneliti mengkhususkan pembahasan pada nilai moral saja. Perlu dilakukan lagi penelitian pada nilai-nilai lain karya sastra yang sama guna memperkaya apresiasi karya sastra. Dengan pembahasan ini, diharapkan pembaca mampu meningkatkan nilai-nilai moral dalam kehidupan nyata.  

Daftar Pustaka
Artika, I Wayan. 2008. Incest.  Yogyakarta: Interpre Book.
Nurgiantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Semi, Atar.1984. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.
Sumardjo, Jacob. 1979. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogya: CV. Nur Cahaya.
Sutresna, Ida Bagus. 2006. Modul Prosa Fiksi. Singaraja: (Tidak diterbitkan).
Yasa, I Nyoman. 2012. Teori Sastra dan Penerapannya. Bandung: Karya Putra Darwanti.